"Desa A misalnya menanam tomat, Desa B menanam cabai, Desa C menanam kol atau sawi," imbuhnya.
Jika demikian, hasil panennya tidak akan berbarengan atau jika berbarengan pun menghasilkan panen dengan jenis sayur yang berbeda.
Baca Juga:
Terima Audensi Pengurus KONI, Bupati Karo Tegaskan Komitmen Peningkatan Prestasi Olahraga Daera
"Sehingga tidak akan terjadi overproduksi yang menyebabkan harga sayur anjlok di pasaran," terangnya.
"Tapi kalau di sini kan petaninya ikut tren harga. Kalau harganya lagi mahal, ya itu yang ditanam. Susah untuk diterapkan," tutup dia.
Sementara itu, seorang petani tomat bernama Ardiyanto mengaku, dirinya tidak begitu mengetahui soal anjloknya harga tomat.
Baca Juga:
Kemenag Sumedang Tunggu Arahan Pusat Soal Pembelajaran dan WFH Guru
"Saya ini kan cuma pekerja. Saya bekerja sama pemilik kebun," ujar Ardiyanto.
"Jadi, saya gak begitu paham soal harga tomat sekarang ini," sambungnya.
Tanaman apa pun yang ingin ditanam oleh pemilik kebun, dirinya akan menanamnya tanpa bertanya soal harganya.