‘’Karena tagihan listrik kemungkinan hanya Rp 250 juta per bulan atau Rp 3 miliar per tahun. Sedangkan dengan memakai PLN dan sebagian memakai pembangkit sendiri, kami harus menyiapkan biaya operasional maksimal Rp 4 miliar setiap tahunnya,’’ jelasnya.
Maka dengan dedieselisasi ke PLN, PTPN VI dapat pensiunkan pembangkit mandirinya atau menjadikan sebagai back-up system saja.
Baca Juga:
Warga Kebon Bawang Segel Dua Lokasi Pembangunan SUTET di Tanjung Priok
‘’Dengan beralih total menggunakan listrik dari PLN, biaya maintenance bisa dialihkan untuk perbaikan kualitas produksi,’’ tutup Arianja. [dny]