LAMPUNG.WAHANANEWS.CO, Bandarlampung - Wakil Gubernur (Wagub) Lampung, Jihan Nurlela, meminta pemerintah di 15 kabupaten dan kota di provinsi tersebut untuk memperkuat ketersediaan sumber daya air guna memastikan sektor pertanian tetap terjaga dalam menghadapi fenomena El Nino atau kemarau ekstrem.
"Fenomena Godzilla El Nino atau kemarau ekstrem ini berdasarkan informasi yang kami terima akan lebih parah dari El Nino sebelumnya. Jadi kita harus lebih waspada, dan mempersiapkan semuanya dengan baik untuk meminimalisir dampaknya," ujar Wakil Gubernur (Wagub) Lampung Jihan Nurlela di Bandarlampung, Jumat (10/4/2026).
Baca Juga:
DPKP DIY Targetkan Lahan Sawah 2.500 Hektare Dapat Perlindungan Asuransi Pertanian
Ia mengatakan Provinsi Lampung sebagai daerah dengan produktivitas sektor pertanian cukup produktif, maka harus melakukan langkah mitigasi lebih cepat. Salah satunya dengan memperkuat sumber daya air di berbagai wilayah pertanian.
"Jadi tantangan ini harus kita tangani secara terpadu, dan tidak bisa dilakukan secara parsial. Pertama perlu menguatkan sumber daya air yang didorong dari optimalisasi berbagai instrumen infrastruktur sumber daya air seperti pompa, sumur bor, embung yang perlu dirapikan atau revitalisasi," katanya.
Dia melanjutkan beberapa langkah mitigasi lain di sektor pertanian dan pangan sebelum periode kemarau ekstrem dimulai pada April-Juni yakni dengan segera melakukan percepatan tanam, pompanisasi dan manfaatkan penggunaan varietas tahan kekeringan, serta aktifkan asuransi usaha tani padi (AUTP). Kemudian perlu juga sinergitas antara dinas pertanian dan Bulog untuk menjaga pangan tetap stabil.
Baca Juga:
Mentan SYL Imbau Petani di Provinsi Lampung Ikuti Program AUTP
"Berdasarkan informasi BMKG, kemarau ekstrem ini akan dimulai di Mei, dan saat ini sudah memasuki pertengahan April. Jangan sampai kita terlambat mengantisipasi serta menghadapi ini," ucap dia.
Menurut dia, pemerintah daerah di 15 kabupaten serta kota di Provinsi Lampung harus segera memitigasi dampak kemarau ekstrem tersebut sejak saat ini. Sebab pada Mei mendatang sebagian besar wilayah di Lampung sudah mulai mengalami penurunan curah hujan dan puncak kemarau akan terjadi di September, sehingga daerah pertanian harus mendapatkan suplai air yang cukup.
"Fenomena kemarau ekstrem ini dampaknya akan cukup luas dari sektor pertanian, permukiman, perkebunan, hortikultura. Lalu daerah-daerah yang berisiko kekurangan air bersih tentu menjadi tantangan tersendiri untuk kita menyelesaikan permasalahan tersebut. Tapi kita patut bersyukur dan tentunya harus dijaga karena Lampung dapat meningkatkan produksi padi dari 2,73 juta ton gabah kering giling pada 2024. Menjadi 3,25 juta ton pada 2025. Dan yang menjadi kekhawatiran jangan sampai produktivitas yang sudah dicapai ini jadi menurun karena fenomena Godzilla El Ninofenomena Godzilla El Nino," tambahnya.
[Redaktur: Amanda Zubehor]