WahanaNews-Lampung.co| Sampel makanan yang menyebabkan keracunan massal di Kecamatan Banjar Baru, Kabupaten Tulang Bawang-Lampung beberapa waktu lalu, kini masuk ke tahap uji mikrobiologi.
Adjis Sanjaya, selaku Kepala Loka POM Tulang Bawang mengatakan, pengujian sample makanan itu memang harus melalui beberapa tahapan.
Baca Juga:
Hujan Es Guyur Empat Desa di Lampung Utara, Sejumlah Rumah Warga Rusak
Mulai tahap uji kimia sampai uji mikrobiologi.
"Dan saat ini masih uji pemantapan. Ada uji kimia dan uji mikrobiologi. Sekarang masuk uji mikrobiologi," tutur Adjis, Kamis (20/01/2022).
Pada tahap pemantapan ini, Adjis menuturkan, tidak cukup dengan waktu yang singkat, karena ada proses inkubasi terhadap sel yang ada pada sample makanan itu.
Baca Juga:
Bocah 5 Tahun Terseret 2 Km, Mobil Fortuner Nyaris Dibakar Warga di Lamtim
"Uji mikrobiologi ini yang dibutuhkan waktu agak lama. Karena butuh waktu inkubasi untuk mikroba. Untuk lebih menegaskan hasilnya," papar Adjis.
"Kami usahakan secepatnya," tandasnya.
Kronologi Keracunan Massal di Tulang Bawang
Diketahui sebelumnya,puluhan warga Kecamatan Banjar Baru, Tulang Bawang menjadi korban keracunan massal usai menyantap nasi besek pada saat acara yasinan di Kampung Indah Mekar Jaya.
Pada umumnya, mereka merasakan gejala keracunan pada Jumat (7/1/2022) pagi.
Mulanya, mereka tidak merasakan ada yang ganjil terhadap makanan yang disantap.
Namun, gejala seperti mual, pusing, lemas, disertai muntah-muntah itu baru terjadi setelah lebih dari 10 jam menyantap makanan itu.
Menu nasi besek yang mereka santap seperti nasi urap, tahu, tempe, dan telur rebus.
Ada juga jajanan pasar seperti lemet, agar-agar, dan makanan ringan lainnya.
Seperti yang dialami Reni (25), warga Mekar Indah Jaya, yang ikut acara yasinan pada Kamis (06/01/2022) sore lalu.
Reni menuturkan, acara yasinan rutin itu berlangsung selepas sekitar pukul 16.00 WIB.
"Acaranya abis Asar, yasinan. Saya pulang jam setengah enam," kata Reni saat ditemui di RSUD Menggala, Sabtu (8/1/2022).
Reni mengaku makanan yang disantap saat itu berupa nasi besek yang di dalamnya ada urap, telur rebus, tempe.
Ada juga jajanan pasar seperti lemet dan agar.
"Waktu makan, seperti biasa tidak merasakan apa-apa. Biasa aja, nggak ada rasa-rasa gitu," kata Reni.
Hanya, dia mengaku memang ketika makan lemet rasanya seperti basi.
Wujudnya pun terlihat sedikit lunak dan sudah berair.
"Ya lemet, kayak ada air-air gitu," imbuhnya.
Setelah itu, dia baru merasakan ada yang ganjil keesokan harinya sekitar pukul 08.00 WIB.
Pagi itu, Reni menjalani aktivitas seperti biasa, seperti bersih-bersih rumah
"Seperti biasa, pagi sekitar jam 8 saya nyapu. Nah pas lagi nyapu itu perut terasa sakit, langsung ke kamar mandi," paparnya.
Selain Reni, ibu dan suaminya juga ikut makan nasi besek tersebut.
"Tapi alhamdulillah, ibu dan suami nggak kenapa-kenapa. Hanya saya yang merasakan seperti ini," tutur Reni.
Warga Kampung Mekar Indah Jaya, Siti Rohiyah, menceritakan anaknya diduga mengalami keracunan pasca menyantap nasi besek yang didapat dari tempat yasinan tetangganya.
Sama halnya dengan Reni, anaknya baru merasakan mual, pusing, disertai muntah-muntah pada Jumat pagi.
Padahal, acara yasinan itu berlangsung pada Kamis sore.
"Paginya baru mulai terasa mual dan pusing-pusing," kata Siti.
Dudu, warga lain, menyebut ada lima anggota keluarganya yang mendapatkan perawatan di RSUD Menggala lantaran merasakan gejala mual, pusing, lemas, dan muntah-muntah.
Sebelum peristiwa itu terjadi, ia mengaku mendapatkan kiriman besek dari tuan rumah yang menggelar yasinan.
"Kami enggak datang, terus dikirimin besek. Tapi yang makan istri saya aja. Anak-anak enggak. Tapi kalau jumlah keluarga yang dirawat ada lima orang, termasuk ibu saya," kata dia.
Gejala seperti orang keracunan itu, kata dia, baru dirasakan sangat istri mulai pagi.
"Paginya baru terasa. Awalnya terasa sakit kepala, perut sakit, dan mual-mual," ungkapnya.[jef]